Skip to main content

2 Sisi Pandang, Baik Tidaknya Anak Banyak Bertanya


Pertanyaan baik tidaknya anak banyak bertanya, bagai dua sisi mata koin. Ada sisi baik dan kurang baiknya.

Sebenarnya hanya tergantung pada situasinya saja.

Hal ini yang terkadang kita tidak jeli melihatnya. Apa saja itu?

1. Sisi baiknya

Saya mulai dari sisi baiknya terlebih dahulu.

Konon dalam salah satu komentarnya saat Einstein ditanya wartawan tentang anak-anak yang jenius, ia pernah berkata bahwa anak yang jenius itu bukanlah anak yang mampu menjawab sebanyak-banyaknya soal yang sudah ada jawabannya di buku, melainkan anak-anak yang paling banyak bertanya, apa saja, kapan saja, dan dimana saja, yang isi pertanyaannya seringkali bahkan orang dewasa saja tidak mampu untuk menjawabnya.

Secara logika memang ada benernya.

Artinya anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kita sebagai guru dan orang tua, tentu harus menumbuhkan, memelihara dan merawat perilaku tersebut.

Di situlah letak belajar sesungguhnya. Belajar yang muncul dari dalam diri anak itu sendiri.

2. Sisi kurang baiknya

Ada sisi baik, tentu ada sisi kurang baiknya. Saya punya pandangan pandangan tersendiri, anak yang terlalu banyak bertanya malah bisa menjadi kurang baik.

Loh kok bisa?

Karena anak seperti itu cenderung kurang percaya diri. Kurang menggunakan akal dan pikirannya dalam menghadapi sesuatu.

Saya sering nemui anak-anak seperti ini di kelas. Setiap saya memberikan feedback berupa tes tertulis, mereka kembali banyak bertanya. Bahkan sesuatu yang sangat sederahana sekali.

Contohnya, "cara ngerjakannya seperti di papan tulis ya pak?", "menjawabnya di buku latihan Pak?", "kalau selesai dikumpul Pak?", "cara ngerjakan ini seperti ini Pak?".

Bahkan nih, soal essay yang jelas-jelas sudah biasa ngerjakan dengan cara diisi, masih ada yang bertanya, "ini diisi ya Pak?".

#Tepok jidad 😩

Iya saya ngerti, anak-anak biasanya caper. Cari perhatian. Sehingga kita nganggap, oke lah mereka anak-anak.

Namun jika hal tersebut terbiasa sampai besar, bisa jadi dia menjadi anak yang kurang percaya diri, sulit memutuskan sesuatu, dan kurang menggunakan akal pikirannnya.

Jadi bagaimana?

Kondisi anak seperti itu sebenarnya bukanlah masalah. Yang jadi masalah kita sebagai guru dan orang tua membiarkan saja, tidak membatu mengarahkannya.

Mestinya kita juga berperan 2 sisi juga toh? Padai-pandai mengarahkan mereka.

Kadang kita mesti bisa menyalakan tanda tanya, sehingga menarik dan menumbuhkan minat mereka untuk belajar.

Namun juga jangan lupa ajarkan mereka memikirkan sesuatu terlebih dahulu sebelum bertanya.

Tujuannya agar membiasakan mereka untuk berproses berpikir. Melihat sesuatu, dan memprosesnya.

Selain itu, menahan diri terlalu banyak bertanya adalah salah satu bagian dari adab terhadap guru.

Jika anda pernah belajar pesantren atau belajar dengan ustad-ustad. Kita sebagai murid hanya duduk mendengarkan, dan beliau menjelaskan isi kitab.

Tujuannya apa? Ini adalah bagian adab. Melatih kita memahami, mendengarkan, dan bersabar dalam belajar.

Kesombongan murid

Berkaitan masalah adab di atas, saya ingin cerita dikit sewaktu saya sekolah SD.

Suatu saat pernah banyak baca. Trus merasa banyak tahu.

Jadi pengen banyak tanya ke guru. Padahal saya sudah tahu jawabannya.

Saya baru sadar, hal tersebut sebenarnya hanya ingin dilihat pinter oleh guru, dinilai banyak tau, dianggap aktif, dianggap guru memperhatikan pelajaran. Namun ada sisi yang sangat tidak baiknya, yaitu ingin menguji guru.

Jadi bener juga belajar ala pesantren, murid itu tidak bertanya kepada guru. Note: ini untuk belajar kitab. Namun untuk pelajaran lain saya kira kurang cocok diterapkan.

Namun prinsipnya tetap sama, tidak banyak tanya dan menjaga adab itu PENTING.

Penerapan dalam bekerja

Saya ingin cerita pengalaman sedikit. Berkaitan bahayanya anak yang suka banyak bertanya terbawa dewasa dan saat bekerja.

Pengalaman ini saat mengkoordinir teman-temen LO di event hari jadi kota saya. Waktu itu pertama kali jadi koordinator. Sehingga masih belajar mengetahui karakter yang cocok untuk job ini.

Jadi ada satu LO yang suka sekali bertanya dengan saya jika ada kendala sedikit saja di lapangan. Bahkan hal sepele saja.

Beberapa kali mengkoordinir LO, akhirnya saya bisa menarik kesimpulan, orang-orang seperti ini gak bisa sulit ngatasi masalah sendiri. Bentrok dengan peserta event.

Nah ini salah satu contoh bahayanya kebiasaan banyak bertanya yang tidak diarahkan sejak kecil.

Penutup

Demikian pendapat saya baik tidaknya  anak banyak bertanya? Semoga menginspirasi. Mohon maaf jika ada salah kata, silahkan berikan masukan di kolom komentar. Trims.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar