Skip to main content

Review Buku Memilih Sekolah #1: Pengantar yang Merubah Pandangan Saya Tentang Sekolah Terbaik


Bagi orang tua dan guru jaman now mesti memiliki Buku Panduan Memilih Sekolah, yang ditulis oleh Bukik Setiawan, Andrie Firdaus dan Imelda Hutapea. Mereka bertiga adalah sosok yang kenyang makan asam garam dunia pendidikan, dengan latar belakang yang berbeda. Untuk selengkapnya bisa Anda lihat di sini.

Oh ya, sebenarnya saya agak telat bikin review buku ini. Padahal saya sudah beli dan dapatkan bukunya sejak pertama kali pre order sekitar bulan Mei yang lalu, bahkan dapat tanda tangan penulisnya langsung lho. Ini buktinya, hehe..


Oh ya, buku yang bertanda tangan langsung ketiga penulisnya ini hanya untuk yang memesan saat pre order lho.

Ketika buku ini datang, sebenarnya sempat saya baca separo, alias gak selesai. Makanya saya baru bisa review sekarang. Maaf Pak Bukik, Pak Andrie dan Bu Imelda 😊🙏.

Selain alasan tersebut, berikut alasan kenapa saya baru reviewnya sekarang.
  1. Bulan tersebut saya lumayan bayak kesibukan, antara lain:
    • Pembuatan soal ulangan semester untuk persiapan ulangan semester
    • Ngerjakan beberapa administrasi sekolah
    • 1 minggu lebih menjadi Koordinator LO, acara Hari Jadi Kab. Kotabaru, Kal-Sel
    • Persiapan merekap dan penulisan nilai rapot
  2. Setelah selesai semua kesibukan di atas, badan saya drop karena tipes saya kambuh. Hampir sebulan lebih. Bahkan kalau dihitung, puasa saya cuma 5 hari
  3. Merubah kesibukan membaca dengan bermain game, agar saya tidak jemu karena hanya di rumah dan gak bayak gerak
  4. Saya ngalami sejenis sindrome reading block. Sejenis perasaan gak minat baca buku

Alhamdulillah minat saya baca buku mulai berkobar ketika saya jalan-jalan ke Banjarmasin dan mampir ke Gramedia. Jadi saya beli 2 buah Buku.

Alhamdulillah sampai saat ini udah nyelesain 1 buah buku tersebut, dan langsung tancap gas lanjutkan selesaikan membaca Buku Panduan Memilih Sekolah.

Kalimat pengantar yang merubah pandangan saya sekolah terbaik

Ada yang menarik dari Buku Panduan Memilih Sekolah ini. Untuk review #1 ini fokus saya pada bagian pengantar.

Gara-gara pengantar tersebut, pandangan saya menjadi berubah akan sekolah terbaik.

Di pengantar tersebut, ada dua sub judul yang ngehack otak saya. Yang pertama, "mengapa sekolah terbaik justru tidak baik untuk anak".

Penjelasan tersebut juga bisa Anda baca di postingan beliau di temantakita.com. Siapa tau Anda tertarik dan pengen beli bukunya.

Jadi...

...hal yang di luar pikiran saya selama ini.

Karena saya sejak kecil pun bersekolah di sekolah favorit. Sehingga meruntuhkan pandangan saya kedepan untuk anak saya nantinya bersekolah.

***

Yang kedua, "sekolah hebat untuk semua dan setiap anak".

Nah ini yang paling #jleb. Bayangkan saja negara Finlandia yang mendapat peringkat 1 negara literasi di dunia, justru tidak bervisi ingin menjadi sekolah yang terbaik.

Mari perhatikan satu halaman presentasi dari Pasi Sahlberg, ahli pendidikan Finlandia sekaligus penulis buku Finish Lesson (Pelajaran dari Finlandia).


Ada dua sosok di gambar tersebut.

Gambar kanan, seoranglelaki tua yang memegang tulisan “Kami akan menjadi sekolah terbaik di dunia pada tahun 2020”. Sementara, sosok di samping kirinya adalah perempuan membawa papan bertuliskan “Sekolah hebat untuk semua dan setiap anak”.

Pikiran saya bahkan Anda, mungkin beranggapan sekolah terbaik seperti ilustrasi yang sebelah kanan bukan? Ternyata negara Finlandia bervisi seperti gambar yang sebelah kiri.

Titik terangnya seperti ini, seperti yang dijelaskan Pak Bukik.

Titik pusatnya adalah sekolah yang ingin tampil di panggung dan menjadi sorotan banyak pihak. Visi adalah niat. Visi tersebut membuat sekolah berusaha keras mencapai kriteria dan standar yang ditetapkan pihak lain agar diakui sebagai yang terbaik. Fokusnya adalan tuntutan dari eksternal, baik itu dinas pendidikan, kementerian pendidikan, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), maupun lembaga akreditasi. Kebutuhan anak dipenuhi sejauh menjadi kriteria dan tuntutan dari lembaga eksternal tersebut.

Akibatnya, kebutuhan anak diabaikan karena sekolah seringkali kerepotan memenuhi tuntutan untuk menjadi sekolah terbaik. Alih-alih memenuhi kebutuhan anak agar terjalin relasi positif, sekolah cenderung menegakkan aturan dan disiplin yang ketat. Sekolah menuntut anak-anak untuk patuh dan tertib. Patuh terhadap perintah guru. Tertib menjaga keteraturan. Tercipta relasi sekolah dan anak yang tidak kondusif untuk terbentuknya kegemaran belajar. Belajar menjadi paksaan

Berkebalikan dengan visi “Sekolah hebat untuk semua dan setiap anak”.

Titik pusatnya adalah anak-anak yang mempunyai beragam kebutuhan untuk didengarkan dan dipahami oleh pisah sekolah. Visi adalah niat. Visi tersebut membuat sekolah berusaha keras untuk memahami dan memenuhi kebutuhan anak. Asesmen untuk mengenali kebutuhan anak dilakukan secara berkala. Proses belajar dikaji terus menerus agar tercipta belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna buat anak-anak. Tuntutan dari pihak eksternal dipenuhi dengan tetap memprioritaskan kebutuhan anak.

Akibatnya, anak-anak merasa didengarkan dan dipahami oleh pihak sekolah. Alih-alih melakukan perbuatan yang merepotkan, anak-anak justru mengambil peran dan memberi konstribusi agar tercipta relasi dan lingkungan sekolah yang positif. Sekolah dan anak-anak menjadi pihak yang sama, saling bahu membahu memajukan sekolah. Anak-anak belajar bukan karena terpaksa, tapi karena senang belajar. Dengan belajar, anak-anak menemukan makna.

Jadi menurut Anda yang mana lebih baik?

Penutup

Bagi saya pribadi menjadi insight tersendiri kedepan dalam mengajar dan menyekolahkan anak saya. Semestinya guru hebat untuk semua dan setiap anak. Dan sekolah hebat untuk semua dan setiap anak.

Oh ya, bagi Anda tertarik dan penasaran akan Buku Panduan Memilih Sekolah, silahkan order langsung saja melalui link ini.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar