Skip to main content

Perlukah Mengontrol Peserta Didik?


Seperti yang kita ketahui, tingkah laku anak-anak berbagai macam. Ada yang pasif, aktif, bahkan super aktif.

Super aktif yang saya maksud di sini, bisa lah disebut lost control. Gak bisa diam, suka mengganggu temannya, ketika guru bicara dia bicara sendiri, suka membuat gaduh, jalan-jalan semaunya, pas guru tidak di kelas dianya mengganggu/ menyakiti temannya, suka juga mengganggu teman-teman di kelas lain, yah begitu-begitu lah...

Satu sisi kita mesti bisa meracik pelajaran agar mereka tertatik. Selain itu, bagaimana membuat kesepakatan agar bisa menjadikan pelajaran bermakna untuk menghindari perilaku-perilaku yang kurang berkenan. Namun terkadang cara ini tidak berfungsi. Justru membuat mereka semakin berani, terutama saat tidak ada guru di kelas.

Kalau sudah begitu apakah sah memberi hukuman? Sedangkan beberapa praktisi pendidikan menganggap belajar terbaik bagi anak adalah belajar tanpa ada imbalan dan hukuman.

Sebenarnya saya juga setuju akan hal ini. Namun jika mesti menerapkan hukuman dan imbalan saya juga setuju, dengan catatan untuk situasi tertentu.

Bukankah di agama juga seperti itu. Bagi Anda yang beragama Islam, di Al-quran jelas disampaikan. Muslim yang bertaqwa akan mendapat syurga, dan bagi yang mungkar mendapat ganjaran neraka. Saya yakin agama lain juga diajarkan seperti itu.

Nah konsep imbalan dan hukuman ini juga tidak bisa kita lepas begitu saja dalam pendidikan bukan? Kaitannya dengan menyikapi anak yang perilaku kurang berkenan, saya menimbang hal ini patut diterapkan. Hal ini juga sebagai pelajaran, bahwa untuk di hari nanti pun setiap perilaku akan ada ganjaran. Betul?

Namun catatan pribadi saya, hal ini hanya untuk perilaku saja. Namun bukan untuk hasil belajar mata pelajaran. Jadi meskipun hasil belajarnya anjlok, tidak mesti harus diterapkan imbalan atau hukuman. Karena hasil belajar mata pelajaran itu memang tidak bisa dipaksakan. Lain halnya dengan perilaku anak, mesti mesti disadarkan.

Mungkin Anda yang membaca tulisan saya kali ini ada yang tidak sependapat. Oleh karena itu, mohon pahami secara keseluruhan dan baca sampai habis tulisan saya berikut. 😊🙏

***

Untuk menambahkan gambaran, saya ingin cerita pengalaman saya berkaitan dengan anak-anak yang bisa dibilang lost control tersebut.

Berikut dua cerita pengalaman yang ingin saya bagikan.

1. Pegalaman hari ini.

Jadi ceritanya hari ini adalah hari kedua saya ngajar di kelas 3 di TA. 2018/2019. Sebenarnya masih tahap perkenalan, penjajakan, mengatur ruang kelas, mengatur kesepakatan, dan lain-lain.

Nah kebetulan ada salah satu anak super aktif seperti yang saya ceritakan di awal tadi. Anak ini pada dasarnya rasa ingin diperhatikannya sangat tinggi. Namun perilakunya berakibat menjadi mengganggu temannya, dengan guru kurang tata krama, bicara semaunya, ketika kita bicara dia selalu menimpali, jangankan guru tidak ada di kelas, pas ada guru pun bertingkah semaunya.

Pandangan saya, perilaku seperti anak ini gak bisa dibiarkan. Karena awal tahun ajaran baru ini akan menentukan bagaimana korelasi antara guru murid selanjutnya.

Jujur saja, saya lebih memilih jadi guru yang dianggap disegani, berwibawa, tegas namun tetap lemah lembut dan menyenangkan. Dibanding guru yang imagenya gak disegani sama sekali.

Ada lho rekan saya seperti itu, beliau seperti gak berwibawa sama sekali. Sampai-sampai anak didiknya berani naik dan duduk-duduk di atas meja, padahal ada gurunya di depan kelas lho. Wah korelasi guru murid seperti ini menurut saya udah gak bagus.

Karena bagaimana pun, murid harus memiliki adab. Adab menurut saya no 1.

***

Langkah yang saya ambil pagi tadi adalah, meminta anak lost control (anggap saja namanya si A) tersebut maju ke depan, berdiri di samping saya. Saya nganggap, sebenarnya anak ini karena rasa ingin dilihat/ diperhatikan yang berlebihan saja. Makanya saya ajak maju saja ke depan kelas sekalian agar diperhatikan teman-temannya.

Benar saja, perilakunya semakin menjadi. Dia semakin berulah, bagaimana membuat teman-temannya ketawa.

Kalau saya perhatikan, sebenarnya dia hanya belum bisa saja, memilah cara yang lebih baik untuk menyenangkan teman-temannya. Sehingga melakukan apa pun menarik perhatian siapa pun.

Jadi cara ini masih kurang efektif, karena dianya malah terlalu senang, dan bertingkah semaunya. Haha, emang ni anak super sekali....

Kalau guru lain mungkin udah marah-marah atau menjewer. Kalau saya Alhamdulillah masih bisa kontrol.

Lalu saya minta dia balikkan badan menghadap papan tulis. Apakah berhasil? Ternyata tidak. 😊

Dia tetap saja bikin ulah, yang membuat teman-temannya yang lain ketawa ngelihat dia. Fokus anak-anak bukan kepada saya lagi, tetapi kepada si A, hehe...

Berarti cara tadi masih gagal. Saya ambil langkah berikutnya dengan memindahkan dia ke pojok belakang.

Alhamdulillah cara ini efektif bisa membuat kelas lebih terkendali, fokus anak-anak kembali kepada saya, karena posisi si A di pojok belakang sedangkan yang lain duduk menghadap depan.

Bagaimana si A?

Si A pun mulai sadar akan kesalahannya. Meskipun masih berulah hal-hal kecil. Kadang jongkok, jalan-jalan, tetapi udah mulai terlihat muka menyesalnya, hehe..

Namun Masalah tidak sampai di situ.

Ada anak-anak kelas 2 yang berada di luar mencoba mengganggu. Saat saya menjelaskan, eehhh buka-buka pintu kelas, gedor-gedor, neriaki anak-anak kelas 3 dari luar, lempar-lempar sampah lewat bawah pintu, hehe... ada-ada saja kelakuan mereka. Meski begitu saya ngerti aja, emang gini sebenarnya perilaku kelas rendah. Lebih banyak aksinya.

Sudah saya tegur... Ada yang lari, ada yang nuduhin temannya yang melakukan, ada yang ketawa-ketawa.

Meski begitu, masih saja mereka mengulangi, bahkan berkali kali. Jadi saya ngambil tindakan lagi, persis seperti yang saya lakukan kepada si A.

Kebetulan anak-anak kelas saya, mengenali salah satu anak kelas 2 yang teriak-teriak dari balik pintu, memasukkan sampah bahkan gedor-gedor tersebut, mengenali melalui namanya melalui suaranya.

Jadi langsung saja saya buka pintu, dan mendapati anak tersebut lari terbirit-birit. Namun sayang bagi dia, saya sudah mengantongi namanya, hehe...

Anggap saja namanya si B. Lalu saya suruh teman-temannya memanggil dia. Kebetulan dia ini salah satu paling berpengaruh di antara-teman teman satu kelasnya, badannya paling besar, umurnya lebih tua. Kelakuannya sama persis si A.

Jadi saya minta di masuk ke kelas saya, pintu ditutup dan meminta berdiri di samping papan tulis di depan kelas saya.

Dia pun jadi sedikit tegang..

Saya tidak mukul, namun mencoba memberi pemahaman pada dia, untuk memposisikan dirinya menjadi murid kelas 3.

Gak lama teman-teman sekelas dia yang lain yang masih di luar, kembali berulah persis kaya yang dia lakukan sebelumnya. Saya minta dia dengarkan dan perhatikan ulah teman-temannya yang ada di balik pintu.

Setelah beberapa menit, saya ajak dia evaluasi. Saya ajukan beberapa pertanyaan untuk menggali pemahaman dan menyadarkan dia. Seperti:

"Bagaimana rasanya jika seandainya kamu belajar di kelas ini? Jengkel, tidak enak, tidak nyaman, terganggu?"

"Apakah perilaku seperti itu mengganggu teman-teman yang belajar di kelas?"

Dia pun menjawab dengan penuh kesadaran. Akhirnya si B menyadari kesalahan dia. Kemudian saya ajak dia minta maaf kepada anak-anak murid saya di kelas 3.

Selanjutnya saya beri tanggung jawab kepada dia, bahwa selanjutnya dia yang bertanggung jawab atas teman-temannya di kelas 2. Jika lihat temannya yang lain masih melakukan hal yang sama, maka dia harus menegurnya. Dia yang mengajarkan dan menyadarkan teman-temannya.

Dengan cara ini, saya tidak perlu memarahi, memaki-maki anak-anak kelas 2 yang banyak tadi. Cukup satu anak yang berpengaruh, saya sadarkan. Selebihnya anak tersebut yang bekerja.

Apakah cara ini efektif? Saya tidak tahu, Kita lihat saja nanti beberapa hari kedepan.

Namun sebelumnya saya pernah menerapkan cara ini di kelas 5, kalau tidak salah waktu itu yang saya briefing adalah salah satu murid kelas 4. Alhamdulillah work. Hari berikutnya tidak terjadi lagi.

2. Ketika saya masuk ke kelas X

Cerita yang kedua adalah saat saya nyari rekan saya, sebut saja Guru C. Beliau ini guru mapel. Saat itu beliau ngajar di kelas, anggap saja kelas X.

Nah pemandangan yang kurang berkenan saat saya pertama masuk kelas. Anak-anaknya ada yang kesana kemari, ada yang lari-lari, ada yang main-main. Tambah parah ketika saya bicara guru C. Anak-anak makin lost control.

Sebentar-sebentar ada yang lapor ke guru, dia diganggu temannya. Gak lama lapor lagi, alasen macam-macam. Kemudian lebih parah, ada yang berkelahi.

Sebenarnya saya sambil bicara, mata saya memperhatikan anak-anak. Ada memang salah satu anak yang suka olah onar, biang dari temen-temennya. Persis seperti yang saya gambarkan di awal tadi, anak lost control/ super aktif.

Dari awal masuk kelas tersebut, sebenarnya saya pengen negur anak tersebut, namun saya gak enak sama guru C.

Karena sudah beberapa menit saya bicara dengan guru C, kelas makin tak bisa dikontrol, ditambah Guru C memang bawaannya alon sama anak-anak. Jadi saya ambil tindakan seperti yang saya lakukan di cerita pertama di atas.

Saya jemput si anak biang kerok tersebut, sebut saja namanya si D. Saya minta berdiri di depan kelas.

Tujuannya sebenarnya bukan juga untuk menghukum, namun berusaha memisahkan dengan teman-temannya untuk sementara waktu. Sambil mencoba menyadarkan si anak tersebut akan perilakunya yang kurang berkenan.

Cara tersebut efektif... Kelas menjadi tenang. Kawan-kawan yang lain menjadi agak takut, kalau-kalau juga disuruh maju ke depan.

Apakah kelas yang bagus harus ribut atau harus tenang?

Dari beberapa pengalaman yang saya lalui, sering muncul di kepala saya, apakah kelas yang bagus adalah kelas yang ribut atau tenang?

Sering selalu saya berfikir. Ingin menolak kelas tenang itu kurang bagus. Karena kelas yang bagus adalah, kelas yang di dalamnya anak didiknya aktif.

Namun pengalaman saya selalu membayangi. Anda bisa bayangkan juga dari cerita di atas.

Jadi saat ini masih berkesimpulan, kelas yang bagus adalah kelas yang ribut, namun saat situasi pelajaran yang mesti ada saling terbangun komunikasi dan timbal balik respon antara guru murid.

Namun tidak juga baik selalu seperti itu. Biasanya kelas yang terlalu dibiarkan anak sebebas-bebasnya di kelas, anak-anak jadi lost control dan semakin meraja lela.

Kenapa harus bisa mengontrol perilaku peserta didik?

Berdasarkan cerita di atas sudah bisa memberikan gambarankan, udah kebayang?

Perilaku peserta didik harus bisa kontrol agar lebih bisa mengarahkan mereka bererilaku yang baik,sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Karena belajar itu bukan hanya mempelajari mata pelajaran, namun juga mengajari mereka adab, tingkah laku, sopan santun.

Bagaimana caranya?

Apakah mengontrol mereka dengan marah-marah atau memukul?

Menurut saya, ambil langkah paling ringan dengan ajak bicara, pendekatan. Usahakan adakan kesepakatan.

Namun kalau masih tidak mempan, baru ambil tindakan seperti yang saya ceritakan di atas. Intinya anak diajak berpindah dari posisi awal duduk, dan tampilkan di depan kelas.

Jika masih tidak mempan pindahkan dia di pojok belakang. Dengan begitu secara psikologi akan memaksa dia berpikir dan merenungi diri, tanpa kita harus memojokkan dia dengan kata-kata kasar dan kontak fisik.

Penutup

Jadi mengontrol peserta didik saya rasa sangat perlu. Dan sebagai guru perlu memiliki kemampuan ini. Tujuannya, mengarahkan perilaku anak menjadi pribadi yang baik, menjaga adab, fokus dan tidak mengganggu rekan yang lain.

Jika ada masukan tentang tulisan ini, tolong feedback nya yah di kolom komentar. Karena saya sadar memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu saya senang dengan masukan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar