Skip to main content

Kutipan Kalimat Galilelo - Inspirasi Mengajar


Di sore ini saya bersantai di depan rumah orang tua. Hal rutin setiap sore habis ashar saya dan Andra berkunjung ke sini untuk bermain.

Sambil ngawasi Andra duduk di kursi, ditemani buku yang belum selesai saya baca yaitu Cashflow Quadran oleh Robert T. Kiyosaki.

Sebenarnya buku ini berisi panduang mengelola keuangan. Meski begitu ada beberapa halaman yang menekankan masalah pendidikan. Nah saya menemukan kutipan kalimat yang nyantol di pikiran saya. Berikut kalimatnya.

Galilelo berkata: "Kau tidak bisa mengajarkan apa pun kepada orang, kau hanya bisa membantunya menemukan hal itu dalam dirinya sendiri".

Konteks kalimat ini saya kira bukan untuk guru, namun saya kira prinsipnya sama jika dipakai untuk mengajar anak didik.

Mari kita perhatikan dulu tubuh kalimat tersebut. Ada dua fokus di dalamnya, hampir sama tapi berbeda makna.
  1. Kau tidak bisa mengajarkan apa pun kepada orang.
  2. Kau hanya bisa membantu menemukan suatu hal dalam diri seseorang.

Jika sepintas, sebenarnya sama aja, mengajarkan ya membantu anak menemukan suatu hal dalam diri anak.

Tetapi tunggu dulu, bagaimana jika gini...

...guru masuk kelas, kemudian memberi materi pelajaran, guru menyampaikan, murid mendengarkan. Tak peduli anak didiknya bisa atau tidak memahami materi tersebut.

Apakah hal tersebut anak bisa disebut belajar?

Sedangkan pengertian belajar adalah bukan hanya aktivitas datang ke sekolah, namun belajar adalah adanya perubahan. Masalah belajar sebelumnya pernah saya tulis di sini.

Apakah peserta didiknya akan paham? Belum tentukan? Nah itulah kemungkina maksudnya Galilelo, mengatakan kita tak bisa mengajari siapa pun.

Sayangnya banyak praktik guru gaya ngajarnya gitu.

Bukankah, kemampuan anak sangat heterogen di kelas. Ada yang daya pemahamannya cepat, lambat, dan bahkan tidak bisa sama sekali.

Jadi betul kata Galilelo, kita tidak bisa mengajarkan apa pun kepada orang. Karena itu tadi, tidak semuanya bisa memahami apa yang sekedar kita sampaikan.

Mari kita lanjut ke point yang kedua, "kau hanya bisa membantu menemukan suatu hal dalam diri seseorang".

Nah prinsip ini yang mestinya dipakai setiap guru. Bagaimana caranya bisa menjadi fasilitator yang membantu menemukan kemampuan, minat, bakat peserta didik. Dan bagaimana caranya kita tidak memandang rata anak didik, sehingga penanganannya berbeda-beda.

Saya teringat kembali dengan tulisan Pak Bukik Setiawan. Singkatnya seperti ini.

Ketika belajar psikologi perkembangan, saya berkenalan dengan zone of proximal development dan scaffolding. Ada yang pernah mendengar konsep itu?

Zone of proximal development (ZPD) adalah kategori tugas yang menjadi batas antara anak bisa mengerjakan sendiri dengan anak tidak mampu mengerjakan sama sekali. Semisal, anak sudah bisa berhitung satuan tapi belum bisa berhitung puluhan.

Scaffolding adalah upaya memandu anak melewati tugas yang masuk dalam ZPD sebelum anak mampu mengerjakan sendiri tugas tersebut.

Apabila divisualisasikan, proses scafolding seperti membantu anak mendaki gunung dengan naik langkah demi langkah sesuai kemampuan anak, bukan dengan memaksa anak melompat, dan juga bukan membiarkan anak stress menghadapi curamnya gunung.



Oleh karena itu penting bagi pendidik untuk mengenali kemampuan awal anak, sebelum proses belajar mencapai sasaran belajar yang ditetapkan. Dengan memahami ZPD, tugas pendidik menjadi jauh lebih ringan, karena anak belajar secara alami, bertumbuh dari bawah menuju atas.

****

Jadi terlebih dahulu, kita mesti mengenali kemampuan awal anak. Tujuannya kita bisa membantu anak step by step.

Sehingga diharapkan semua anak di kelas akan mencapai puncak anak tangga target pembelajaran.

Penutup

Demikian tulisan saya di malam ini. Jadilah guru yang bersifat fasilitator bukan diktator, karena anak bukan kalkulator, yang diajari langsung bisa.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar