Skip to main content

Review Saya Tentang Sekolah Tanpa Seragam, Guru & Mata Pelajaran


Kemarin saya menemukan postingan Bapak Bukik di Komunitas Guru Belajar. Beliau menshare tulisan dari voice.com yang berjudul Sekolah Tanpa Seragam, Tanpa Guru, dan Tanpa Mata Pelajaran di Yogya. Sekolah yang dimaksud adalah SALAM (Sekolah Alam).

Menurut saya visi sekolah, cara belajar, metode dan cara pandang sekolah tersebut sangat menginspirasi. Hal tersebut mestinya dikembangkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia.

Meski begitu ada beberapa point yang masih belum selaras dengan pandangan saya. Bukan bermaksud untuk menyela, namun sebagai bahan pandangan saja.

A. Point yang saya sepakati

Dari hasil reading saya di postingan tersebut, ada beberapa hal yang sangat saya sepakati, dan mesti diterapkan di semua sekolah di Indonesia.

1. Belajar dengan riset


Ini yang sangat menarik bagi saya. Bahkan bukan saya saja, anak-anak tentu sangat tertarik dengan cara belajar seperti ini. Bukan belajar yang hanya satu arah, mendapat penjelaskan dari guru, kemudian menulis, dan menjawab soal. Namun ada keterlibatan anak didik dalam proses belajar tersebut.

Bukankah dengan mendengar aku lupa, melihat aku ingat, melakukan aku belajar. Begitu ya, kurang lebihnya. Saya sedikit lupa, hehe.

Nah ini masukan bagi saya pribadi. Bagaimana kelas saya menerapkan prinsip ini di semua mata pelajaran.

Cuman permasalahnnya adalah, menerapkan ke mata pelajaran tertentu, misalnya PKn atau IPS. Meski demikian saya percaya banyak jalan menuju Roma. Insya Allah pasti banyak cara mengajarkan dengan prinsip ini.

2. Pelajaran yang ditentukan pemerintah banyak yang tidak relevan

Sekolah Alam ternyata mengajarkan materi pelajaran tanpa kurikulum. Ini menurut saya sangat luar biasa. Karena anak-anak mereka belajar berdasarkan apa yang mereka minati.

Sekolah tersebut mengajar tanpa kurikulum bukan tanpa alasan. Pendapat mereka, sekolah-sekolah saat ini pada umumnya, pelajarannya banyak yang tidak relevan. Contoh sederhana di SD diajarkan MPR kabinet, dan lain-lain. Gak kepakai nanti anak-anak yang hidup di persawahan, di daerah pantai atau di hutan Papua jika mereka sudah lulus.

Meskipun saat ini sudah ada SMK Kejuruan. Namun tetap saja, kejuruan yang ada saat ini hanya untuk tingkat SMA/sederajat.

Hal tersebut ada benarnya. Mestinya pemerintah sudah saatnya merevisi isi kurikulum pendidikan kita. Gandeng beberapa sekolah alternatif seperti SALAM. Ide pikiran mereka bisa menjadi masukan yang berarti buat pendidikan kita di Indonesia.

Point yang bertolak belakang dengan pandangan saya

Ada point yang saya sepakati, tentu juga ada yang tidak. Bukan saya memandang salah sekolah SALAM. Seperti yang saya bilang di awal, ini hanya sebatas pandangan.

1. Anak di Papua menjadi tidak mau ke hutan, Anak yang Hidup di Persawahan tidak Mau ke Sawah

Anak Papua tidak mau lagi ke hutan karena di sekolah dibiasakan memakai sepatu, dan anak-anak yang hidup di persawahan tidak mau lagi ke sawah karena ada program pemerintah cuci tangan.

Secara sepintas saya pikir ada benarnya. Namun saya renungi lagi, hati saya bertolak belakang dengan pandangan ini. Hal tersebut menurut saya hanya kesalahan persepsi. Tugas gurulah meluruskan mispersepsi mereka tentang program pemerintah ini. Karena tujuan pemerintah sebenarnya baik.

Cuci tangan biar bersih, sehat. Meski pekerjaan di sawah itu kotor, mestinya pulangnya tetap bersihkan tangannya bukan? Begitu juga anak Papua, mestinya dengan memakai sepatu akan merawat kakinya lebih baik dan sehat. Bahkan jika dipakai ke hutan lebih bagus lagi. Karena berjalan di hutan lebih nyaman.

Jadi bagi saya, hal tersebut hanya perlu meluruskan saja. Tugas gurulah memperbaikinya.

2. Menolak apa pun bentuk keseragaman


Prinsip yang sangat digaungkan dari SALAM adalah menolak apa pun bentuk keseragaman. Secara perkembangan diri anak memang bagus. Anak akan tumbuh menjadi kreatif, lebih inovatif, lebih bebas.

Meski begitu menurut saya keseragaman ini juga perlu. Karena hal tersebut adalah salah satu pendidikan karakter bangsa ini.

Misalnya saja baju sekolah. Kenapa kok sekolah di Indonesia memakai baju seragam? Tujuannya agar semua terlihat sama, jangan ada yang menonjolkan anak kaya, anak miskin. Bayangkan saja sekolah tanpa seragam, maka anak kaya akan terlihat lebih mentereng bukan? Hal ini justru akan semakin mendidik dia menjadi anak yang sombong, dan anak yang miskin akan semakin minder.

Tapi pandangan saya ini berlaku untuk sekolah yang favorit, karena akan banyak anak-anak orang kaya di situ. Namun jika diterapkan untuk sekolah pinggiran, prinsip ini masih bisa dipakai.

3. Tidak menekankan hapalan

Belajar itu bukan hanya dengan menemukan (riset), membaca? Salah satunya juga menghapal. Kok menghapal, ya menghapal itu perlu saja.

Bayangkan saja misalkan belajar bangun ruang, pecahan, FPB, KPK jika tidak hapal pekalian, sulit bukan? atau mau belajar sholat tidak hapal bacaan. Tentu kesulitan.

Jadi hapalan itu perlu, tidak bisa belajar hanya berdasarkan riset-riset dan riset. Kita juga perlu memberi anak asupan hapalan. Mumpung mereka masih anak-anak, otak mereka masih mudah menerima pelajaran, jika sudah tua semakin sulit menghapal.

4. Tidak diajarkan agama

Point yang sangat berseberangan dengan saya adalah di sekolah tersebut tidak diajarkan agama. Katanya pelajaran agama tanggung jawab orang tua mereka masing-masing. Saya sangat tidak setuju.

Jadi gini, pelajaran agama yang sekarang saja menurut saya sangat kurang. Bayangkan seminggu hanya 3 jam pelajaran agama untuk mendidik akhlak. Bagaimana bisa membentuk akhlak, karakter yang baik anak didik kita? Mestinya kalau bisa ditambah.

Karena menurut saya, pelajaran utama anak di sekolah itu adalah akhlaknya. Bukan mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, dan lain-lain. Semua mata pelajaran tersebut bisa dipelajari. Namun akhlak perlu pembentukan yang simultan dan dijaga.

Penutup

Ide sekolah tanpa seragam, guru & mata pelajaran ini sudah bagus, namun jika bisa dijadikan penggabungan antara sekolah alternatif dengan sekolah pemerintah, maka akan menjadi lebih bagus lagi. Ambil beberapa poin yang bagus kemudian dikawinkan.

Demikian tulisan saya ini, semoga menjadi masukan bagi kita semua. Jika ada kekurangan semoga dimaafkan, dan silahkan tambahkan di kolom komentar.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar