Skip to main content

Pelajaran dari Film Taree Zameen Par


Sebulan yang lalu sebenarnya saya sudah pernah membuat tulisan berjudul Pelajaran dari Film Taree Zameen Par di Facebook saya. Namun hari ini rasanya jadi pengen menulis lagi pelajaran yang saya dapat dari Film tersebut.

Ide menulis ini muncul lagi karena gak sengaja nonton lagi film tersebut siang tadi di Chanel ABD (chanel yang khusus menayangkan film India). Namun kali ini saya sempat nonton awalnya saja. Berkebalikan saat bulan lalu, hanya nonton bagian tengah sampai akhir.

Meski nontonya singkat, namun ada beberapa pelajaran yang bisa saya petik dari film tersebut.

Pelajaran #2 yang baru saya dapat

Anak cerdas yang diperankan oleh anak yang dikira bodoh ini, ternyata memiliki kebiasaan yang bertolak belakang dari anak pada umumnya.

Teman sekelasnya, bahkan kaka nya sendiri memiliki kebiasaan tepat waktu.  Berbeda dengan anak ini, dia justru kebalikannya. Seperti bangun tidur, sangat santai seperti gak mikirkan takut terlambat jika bangun kesiangan. Bahkan saat mandipun justru bermain-main, melamun.

Intinya dalam menjalankan rutinitas harian, dia tidak terikat dengan waktu. Kasarnya tidak bisa disiplin.

Selain itu anak ini banyak bermain imajinasi. Dia banyak menghayal.

Urusan belajar efektif anak ini, dia belajar secara langsung seperti melihat orang membuat es, melihat heksavator, melihat burung-burung, dan lain sebagainya.

Pelajaran #1 yang saya dapat saat nonton bulan lalu

Jika ada anak yang tidak bisa menulis dan membaca, bukan berarti dia tidak pintar.

"Mereka memiliki permata di dalam dirinya", kutipan kalimat Ram Shankar Nikumbh seorang guru dalam film tersebut.

Setiap anak itu unik..

Jadi teringat beberapa tahun lalu ketemu anak disleksia (kesulitan membaca).

Salah satunya ada anak yang memiliki kecerdasaran dalam olahraga. Meski begitu terbukti beberapa kali mengharumkan nama sekolah.

Yang paling saya senangi, justru anak yang seperti ini lebih menghormati gurunya, dibanding anak rangking di kelas.

Sayangnya beberapa tahun yang lalu anak seperti ini dianggap produk gagal. Hasilnya setiap tahun selalu tidak naik kelas.

Kondisi ini semakin membuat mereka merasa seperti anak bodoh. Akhirnya membuat sebagian dari mereka memilih putus sekolah.

Parahnya lagi salah satu dari mereka, tahun lalu tidak bisa masuk SMP. Karena umur sudah melebihi batas maksimal sesuai edaran Kemdikbud. Karena terlalu tua, kelamaan sekolah di SD.

Penutup

Hari ini saya kembali belajar kembali dari film Film Taree Zameen Par. Tamparan lagi buat saya, agar berhati-hati memandang dan memperlakukan anak didik saya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar