Skip to main content

Cara Potensial Mengasah Kecerdasan Emosional Peserta Didik


Sebagaimana Anda tahu, kecerdasan emosional menentukan 70% keberhasilan menjalani hidup.

Karena cara yang benar menyikapi suatu masalah, akan membantu menjalani hidup yang baik.

Lalu bagaimana mengajarkannya ke anak didik kita?

Kemarin saya tersadarkan, ketika mengajarkan salah satu materi mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V, yaitu mengomentari permasalahan faktual.

Meski begitu, materi ini tetap bisa diterapkan kapanpun dan mata pelajaran apapun.

Karena sifatnya bisa mensituasikan permasalahan faktual dengan materi pelajaran. Misalnya menjadikan pembuka pelajaran, penutup pelajaran, atau sekedar evaluasi bareng peserta didik.

Di mana letak mengasah kecerdasan emosionalnya?

Bapak/ibu mungkin akan bertanya seperti itu...

Dengan mempelajari materi ini, mereka akan belajar:
  1. Mngidentifikasi permasalahan
    • Permasalahannya apa
    • Penyebab permasalahan
    • Akibat dari permasalahan
  2. Membuat saran atas permasalahan tersebut

Artinya, anak didik diajarkan mendalami permasalahan secara keseluruhan, sehingga bisa mendapatkan intisari masalah.

Bukankah memahami Intisari masalah adalah salah satu dasar untuk  menemukan solusi masalah? Dengan begitu, mereka juga akan bisa memberikan saran terhadap masalah tersebut.

Nah jika mereka sudah bisa menemukan sendiri saran atas suatu permasalahan faktual, maka ketika mereka mengalami permasalahan sendiri, kerangka berfikir materi ini akan sangat membantu.

Sehingga bisa menyikapi suatu permasalahan dengan akal sehat. Bukan hanya mengandalkan perasaan.

Bahasa gaulnya gak baperan.. ^_^

Taukan anak didik kita jika memiliki baper kronis?

Jika kena masalah dikit, mudah mewek, pulang lapor orang tua, lapor guru, kelahi, macem-macem dah.. Hehe..

Di sinilah letak pembelajaran mengasah melatih kecerdasan emosional mereka.

Permasalahan faktual apa?

Jika mengacu pada buku teks, memang ada beberapa contoh.

Namun Jika kita menarik pengertian pembelajaran bermakna (meaningfull learning) bahwa proses pembelajarannya mengaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif peserta didik.

Maaka, saya menarik kesimpulan persoalan faktual yang saya sajikan saat itu mesti menitik beratkan pada:
  • Permasalahan faktual mereka sendiri
  • Terbaru
  • Mereka semua alami

Dari kriteria di atas, ada 2 permasalahan faktual yang saya sajikan?
  1. Permasalahan saling ejek supporter anak-anak sekolah kami dengan supporter anak-anak sekolah tetangga (anggap saja sekolah A) saat pertandingan futsal beberapa waktu lalu.
  2. Permasalahan faktual salah satu teman sekelas mereka yang sering terlambat, suka pulang jika terlambat, bahkan sering tidak turun sekolah.

Alasan kuat saya memilih 2 masalah faktual ini, karena menurut saya masalah ini perlu dibenahi.

Dengan menyajikannya kepada peserta didik, sekalian menjadikannya bahan diskusi.

Bagaimana proses pembelajarannya?

Jika Anda ingin juga menerapkannya, caranya sangat mudah. Anda cukup ajukan permasalahan faktual (permasalahan yang benar-benar terjadi). Misalnya yang baru-baru ini terjadi seperti tanah longsor di Bogor, atau kenaikan harga barang-barang pokok.

Langkah kedua ajukan pertanyaan sesuai template berikut:
  • Permasalahan :
  • Penyebab :
  • Akibat :
  • Saran :

Ajak dan bantu mereka menggali permasalah berdasarkan 4 poin penting di atas.

Simple kan?

"Gitu aja ya Pak?" 

Iya gitu aja, bukankah pembelajaran yang baik itu adalah pembelajaran yang simple. Semakin simple semakin baik. Karena semakin mudah dipahami.. Hehe..

Mengasah pisau pun caranya sangat simple, cukup tarik dan dorong berkali-kali, namun dengan asahan yang benar, maka pisau pun akan tajam.

Begitu juga jika ingin mengasah kecerdasan emosional anak didik, jika memiliki kerangka berfikir yang benar dalam menghadapi setiap masalah, maka segala sesuatunya terasa mudah. Betul?

Nah 4 kerangka berfikir di atas kuncinya.

Bayangkan saja misalkan seorang anak menghadapi masalah tidak bisa mengerjakan PR Matematika. Karena di mindset anak tersebut sudah tertanam 4 kerangka berfikir di atas, maka mindset mereka akan mengidentifikasi dengan sendirinya;
  • Permasalahan : tidak bisa mengerjakan penjumlahan pecahan
  • Penyebab : lupa langkah-langkahnya, belum hapal perkalian
  • Akibat : cara menghitung juga semakin sulit
  • Saran :
    • Mestinya saya mencatat beberapa contoh
    • Bertanya pada yang bisa
    • Menghapal lagi perkalian

Mari Bapak/Ibu bayangkan, jika anak-anak memiliki pola pikir seperti itu, masih adakah mereka:
  • Mengeluh karena merasa bodoh?
  • Menyalahkan pelajaran matematika ini sulit?
  • Malas belajar karena gak bisa ngerjakan?

Secara sepintas mungkin yang ada hanyalah usaha mereka untuk terus memperbaiki diri.

Yang jadi pertanyaan bagaimana kerangka berfikir ini tersampaikan dan dipakai oleh peserta didik kita?

Bagaimana jika ingin menerapkan materi pelajaran serupa ini di kelas 5 juga?

Jika Anda tertarik ingin menerapkannya, begini urutan langkahnya.

1. Buka pelajaran dengan menyajikan persoalan faktual pertama

Saya yakin Bapak/Ibu memiliki berbagai macam tehnik membuka pelajaran.

Salah satunya tehnik callback.

Saya coba buka pelajaran dengan tehnik ini, dengan membicarakan permasalahan pertama, yaitu tentang saling ejek supporter antar sekolah.

Dengan 4 fokus pembahasan :
  • Permasalahan saling ejek supporter
  • Penyebab terjadinya saling ejek
  • Akibat dari permasalah tersebut

Tehnik ini cukup ampuh membuat semua peserta didik memperhatikan.

2. Masuk ke materi pelajaran

Langkah berikutnya, saya sampaikan bahwa permasalahan di awal tadi akan berkaitan dengan materi pelajaran berikut.

Dengan begitu, akan memunculkan pertanyaan dalam kepala mereka. Keterkaitan apa antara masalah di awal tadi dengan materi pelajaran yang akan disampaikan Bapak?

Selanjutnya, jelaskan apa sih:
  • Masalah faktual => (masalah yang benar-benar terjadi, seperti baru baru ini terjadinya longsor di Bogor, kenaikan harga barang-barang pokok)
  • Bagaimana mendalami permasalahan dengan mengidentifikasi dan mengurai permasalahan tersebut. Contohnya mengurai masalah kenaikan harga barang pokok:
    • Permasalahan: kenaikan harga barang pokok
    • Penyebab: karena BBM naik
    • Akibat: biaya distribusi barang-barang menjadi naik
  • Bagaimana cara memberi saran yang baik. Contohnya saran untuk menanggapi permasalahan di atas :
    • Ibu rumah tangga lebih selektif menggunakan uang, utamakan barang-barang pokok. Agar keuangan keluarga cukup untuk menghidupi keluarga.
NB: Menyampaikan/mengungkapkan saran dengan sopan.

3. Berikan contoh permasalahan dari buku


Bapak/ibu tentu sepakat, mengajar terbaik mesti melibatkan tidak hanya satu chanel belajar mereka.

Dengan melihat contoh dibuku, kita coba melibatkan visualisasi mereka. Lebih bagus ada ilustrasi gambarnya.

Dengan contoh yang relevan seperti itu akan membantu memudahkan pemahaman materi ini.

4. Bersama-sama mengidentifikasi

Seperti saya sampaikan di awal, materi ini mengajarkan mereka mengidentifikasi dan memahami permasalahan.

Cara membantu mereka memahami permasalahan secara mendalam adalah cukup tulis template seperti di bawah ini dulu di papan tulis:
  • Permasalahan :
  • Penyebab :
  • Akibat :
  • Saran :

Kemudian Anda bisa melemparkan pertanyaan kepada mereka untuk mengisi 4 template tersebut bersama-sama.

Gali sebanyak mungkin. Biarkan mereka mengeluarkan sebanyak-banyaknya pendapat.

Mereka akan rebutan menjawab. Dengan begitu ada keterlibatan mereka secara aktif.

5. Ajukan lagi permasalahan faktual yang sudah dilakukan diawal pelajaran tadi.

Sampai tahap ini mereka sudah mulai memahami konsep bagaimana mengomentari permasalahan faktual.

Nah selanjutnya kembali ajak mereka mengingat permasalahan faktual yang saya ajukan diawal tadi. Lalu Bersama-sama mengidentifikasi permasalahan tersebut.

Dengan begitu ada keterkaitan yang erat antara kognitif dengan informasi yang baru di kepala mereka.

6. Berikan tugas mengidentifikasi permasalahan dan memberi saran atas persoalan faktual yang kedua

Selanjutnya ajukan permasalahan faktual yang kedua..

Untuk kelas saya kemarin, tentang salah satu teman mereka yang sering tidak hadir.

Saya mengangkat masalah ini, karena anak tersebut memang sering tidak masuk sekolah. Dan kebetulan, hari itu tidak hadir lagi.

"Sekalian menyelam minum air", sebagai pembelajaran dan peringatan bagi mereka yang hadir ini.

Tugaskan masing-masing dari mereka mengidentifikasi masalah tersebut dan buat minimal 3 saran.

Hasilnya, ada beberapa saran dari permasalahan tersebut.

Ada yang menjawab:
  • Semestinya si Jono bangun jangan kesiangan
  • Semestinya si Jono belajar lebih giat lagi
  • Semestinya ketika banyak tugas
  • Meluangkan waktunya untuk belajar dari pad bermain

Tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka mengajari dan mengingatkan diri mereka sendiri kan?

Nah dengan begini juga mengajari mereka memandang masalah masuk kepada akarnya, bukan hanya masalahnya. Sehingga ada ter-set di otak mereka mencari solusi atas permasalahan.

7. Lakukan penguatan

Langkah terakhir jangan lupa lakukan penguatan.

Tujuannya agar konsep mengidentifikasi, menguraikan, memahami masalah dan menemukan solusi masalah semakin mereka ingat.

Caranya bisa:
  • Mengingatkan kembali point-point penting materi ini
  • Sampaikan pentingnya cara mengidentifikasi dan mencari solusi permasalahan untuk menghadapi kehidupan
  • Bapak/Ibu bisa kreasikan sendiri.

Penutup

Demikian cara yang potensial bisa membantu peserta didik mengasah kecerdasan emosional. Meski sederhana semoga berdampak luar biasa.

Jika ada masukan maupun cara selain di atas, silahkan kita diskusikan dengan menambahkan di kolom komentar.

Oh ya, Bapak/Ibu tidak perlu minta izin saya menshare tulisan ini, untuk meluaskan informasi dan berbagi manfaat.. Trimakasih ^_^
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar