Skip to main content

11 Tips Menghindari Konflik dengan Rekan Mengajar


Siapapun pasti akan merasa sangat nyaman bekerja bersama rekan mengajar yang baik, ngerti, respek dengan kita.

Disaat kita mendapat musibah, ada rekan yang mensupport. Bahkan ketika kita sukses merekalah orang pertama yang memberi selamat. Inilah wujud hubungan baik yang kita bangun dengan rekan-rekan kita.

Sayangnya, banyak yang gagal membangun hubungan ini karena tidak bisa menghindari konflik dengan rekan mengajar. Bisa jadi konflik terjadi di awal hubungan perkenalan. Bahkan konflik bisa terjadi pada hubungan pertemanan yang sudah cukup lama terjalin.

Lebih parah lagi, ada seseorang yang dianggap biangnya masalah dalam suatu kelompok. Jadi apapun yang dia lakukan, walaupun benar, tetap saja dianggap salah oleh rekan-rekannya.

Pernah menemui?

Itu dia tadi, dia gagal membangun hubungan yang baik dengan rekan-rekannya.

Bisakah Anda semangat bekerja jika seperti itu? Apalagi jika setiap hari berurusan dengan konflik, konflik, konflik dan konflik dengan rekan Anda.

Kabar baiknya permasalahan tersebut bisa Anda hindari jauh-jauh melalui 11 tips berikut ini. Diharapkan Anda akan bisa membangun hubungan baik bahkan menjadi pribadi yang disayangi dan dicintai rekan-rekan anda.

1. Bangunan pikiran positif

Percaya atau tidak, sumber masalah utama dari munculnya konflik adalah dari pikiran kita sendiri. Karena pikiran akan memproyeksikan kepada sikap dan perilaku kita.

Ini dasar dan kunci menghindarkan Anda dengan konflik. Pikiran positif akan mengarahkan kita ke arah perilaku positif, begitu juga pikiran negatif akan mengarahkan perilaku kita ke arah negatif.

Oleh karena itu hindarkan panca indera Anda dari hal-hal negatif, seperti sinetron yang isinya bermuatan negatif, menggosip, terlalu banyak bermain game dan lain sebagainya. Lebih baik melakukan hal-hal yangg positif seperti membaca buku, berolahraga, menulis dan lain sebagainya.

2. Memandang baik semua karakter rekan

Saya tau, Anda pasti juga pernah merasakan risih dengan salah seorang rekan mengajar Anda. Anda begitu muak dengannya. "Mestinya si Anu jangan begini, jangan begitu. Kaya saya nih, mesti begini, mesti begitu...", gumam Anda dalam hati.

Ini kesalahan yang sering tidak kita sadari. Kita sukanya memandang karakter diri sendiri yang paling baik dan paling benar. Jadi, ketika ada rekan yang dianggap kurang baik, segera saja biasanya menjust dan memandang rendah dia.

Contoh sederhana, rekan Anda ada yang suka menggosip. Sedangkan Anda adalah tipe orang yang tidak suka mengurusi orang lain apalagi menggosip.

Jangan sampai Anda terjebak pada sudut pandang negatif, padahal rekan Anda belum tentu buruk-buruk amat aslinya. Jagalah pikiran Anda selalu positif dengan selalu berprasangka baik. Misalnya anggap saja rekan Anda tersebut memang karakternya suka bercerita atau rekan Anda tersebut tipe orang yang suka bicara.

3. Turunkan garis kebenaran

Istilah garis kebenaran ini saya dapat dari Ustad Nasrullah, penulis dan penemu konsep Magnet Rezeki. Singkatnya garis kebenaran ini maksudnya adalah pandangan kita terhadap batas antara kebenaran dan kesalahan.

Misalnya begini, ada rekan Anda yang suka minjam alat tulis di meja kerja Anda. Namun setelah selesai memakai, selalu tidak mengembalikan ke tempat asalnya, bahkan hilang.

Padahal sudah Anda jelaskan berkali-kali, boleh meminjam asal mengembalikan ke tempatnya. Agar Anda mudah menemukan kembali jika Anda memerlukan.

Namun hal tersebut selalu saja terjadi berkali-kali. Sehingga mmebuat Anda jengkel. Menurut garis kebenaran Anda, yang dilakukan oleh rekan Anda tersebut adalah hal yang salah dan merugikan anda.

Jika saja Anda memegang teguh pendapat tersebut, bisa saja Anda akan marah besar, terjadi percekcokan dan akhirnya berkelahi. Padahal hanya masalah sepele.

Dalam konteks ini, Anda bisa menghindari konflik dengan menurunkan garis kebenaran Anda. Anggap saja hal tersebut adalah hal yang biasa saja. Berprasangka baik saja, karena kita sendiri pun juga sering lupa mengembalikan barang milik sendiri ke tempat semula.

4. Hindari terbawa perasaan

Jika Anda ingin memelihara hati yang riang & pikiran positif, Anda harus senantiasa menjaga apa pun yang masuk ke hati Anda. Bahkan ejekan dan candaan, jangan sampai terbawa perasaan.

Terbawa perasaan di sini adalah menyikapi segala sesuatu menjadi pikiran & perasaan negatif. Padahal belum tentu yang menimpa Anda adalah hal yang negatif.

Ringkasnya, terbawa perasaan ini mudah tersinggung dan memasukan ke dalam hati setiap perkataan, sikap & perilaku rekan. Padahal terkadang rekan sendiri bukan bermaksud menyinggung.

Misalnya rekan Anda mengatakan "Anda tidak cocok mengajar dengan baju seperti iti". Jikalau Anda mengambil hati, tentu akan marah dan bilang, "Suka-suka saya dong, baju-baju saya". Namun jika Anda tetap berpikiran positif, Anda mungkin bilang begini "Benar juga, jadi apa ya yang membuat baju ini tidak cocok saya pakai? Nanti saya coba lihat lagi dicermin".

Dengan menghindari terbawa perasaan, sikap Anda akan selalu baik dengan siapa pun. Walau begitu, Anda juga mesti panda-pandai memilah dan memilih. Ambil masukkan rekan yang baik dan tinggalkan masukan yang sifatnya menjatuhkan.

5. Jaga setiap kata dan kalimat yang Anda keluarkan

Pepatah mengatakan "lidah lebih tajam dari pedang". Pepatah tersebut mengingatkan kita agar selalu menjaga setiap perkataan.

Mengapa kita mensti menjaga perkataan? Karena jika kita salah mengeluarkan perkataan, orang lain bisa-bisa menjadi sakit hati. Hal tersebut tentu bisa menjadi sumber masalah.

Oleh karena itu bicaralah seperlunya. Selain itu hindarkan berbicara terlalu cepat, karena rata-rata orang yang berbicara terlalu cepat tidak menyadari apa yang dia sampaikan.

6. Dahulukan kepentingan bersama

Apakah Anda tipe orang yang selalu mendahulukan kepentingan bersama atau orang lain? Jika tidak, Anda perlu mereset cara berpikir Anda.

Seseorang yang merasa dipentingkan akan merasa dihargai. Siapapun yang merasa dihargai hampir dipastikan tidak akan mau membuat konflik dengan orang yang menghargainya.

Jadi berpikirlah selalu bahwa kepentingan bersama itu lebih penting. Selain itu kita juga adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan satu sama lain.

Namun jangan pula hanya memikirkan kepentingan orang lain sehingga kepentingan Anda sendiri Anda abaikan. Hal Itu bagaikan lilin yang menerangi sekitarnya, namun dia sendiri hangus terbakar.

Jadi yang bagus adalah mesti seimbang, antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

7. Mengkritik boleh, namun santun

Tanpa kita sadari, kita ini sebenarnya lebih suka mengkritik dari pada dikritik. Ketika ada hal yang tidak sejalan denggan pendapat kita, rasanya mau habis-habisan mengkritik. Namun ketika kita yang dikirtik, rasanyan hati ini tidak mau terima.

Hal tersebut manusiawi, namun sepatutnya kita lebih hati-hati dalam memberikan kritikan. Karena kritikan adalah sesuatu yang riskan.

Cara mengkritik yang kurang tepat bisa berujung dengan konflik. Walau pun kritikan hanya hal-hal sepele, namun Anda mesti hati-hati. Karena tanpa kita sadari kiritikan-kritikan yang sepele bisa menumbuhkan buih-buih konflik.
Bagai bom waktu yang siap meledak kapan saja, sebagai kumulatif dari ketidakterimaan dari kirtikan-kritikan yang lalu-lalu.

Walau begitu, terkadang memang kita harus mengkiritik. namun ingat, kritikan di sini adalah yang sifatnya membangun dan mengedepankan kesantunan. Dengan begitu Anda akan tetap dihormati dan dihargai.

Caranya berbicaralah dengan suara yang rendah, tidak marah-marah dan bernada kasar. Ingat, Anda membantu mereka pintar, bukan menunjukkan diri Anda pintar. Selain itu berikan solusi, bukan hanya ingin menceramahi.

8. Dukungan lebih utama daripada hanya bisa mengkritik

Daripada kita hanya memberikan kritikan, lebih baik kita beri dukungan. Karena seseorang terkadang hanya butuh ini, dan terbukti lebih ampuh membangun moril seseorang.

Memberi dukungan kepada rekan bukan hal yang sulit. Caranya nyatakan saja langsung, bahwa Anda adalah orang yang selalu mendukung usaha rekan Anda, walaupun melakukan kesalahan sekalipun.

Misalnya rekan Anda gagal meraih juara mengikuti Lomba Guru Matematika se Kecamatan. Lalu Anda kriti dia seperti ini, "kamu tuh mestinya jangan begini..., jangan begitu...", atau bilang seperti ini "kamu tuh salahnya di sini..., salahnya begitu...". Bagaimana kira-kira rekan anda jika mendengar?

Mungkin seketika itu juga dia langsung jawab, "Enak saja kamu kalau ngomong, bla.. bla.. bla...".

Bukannya dia termotivasi, malah dia jadi marah dan akhirnya Anda berdua jadi baku mulut.

Tetapi seandainya Anda bilang begini, "wah usaha kamu sudah sangat luar biasa, kami sudah bangga meskipun kamu belum juara. Coba lagi kesempatan yang akan datang, oke..!?".

Nah lebih enak bukan? saya yakin, rekan Anda lebih termotivasi karena merasa didukung. Dan pastinya Anda bisa menghindari terjadi konfllik dengan rekan Anda.

9. Hargai pendapat rekan Anda

Jika ingin meluruskan pohon bambu yang sudah tumbuh bengkok, tidak bisa kita rubah hanya satu malam. Sama halnya pendapat dan prinsip seseorang, bukan hal yang mudah untuk meluruskannya. Hal tersebut adalah wajar, karena setiap orang dipengaruhi cara berpikir yang berbeda-beda.

Selain itu, sifat manusia adalah keras kepala. Dia akan mempertahankan pengetahuan yang dimilikinya, walaupun itu salah.

Jadi cara terbaik untuk memperbaiki pendapat mereka adalah dengan menyajikan fakta. Biarkan fakta yang berbicara.

Selain itu hindari terlalu berdebat dan menyerang pendapat mereka. Tetap santun dan hargai pendapat mereka. Dengan begitu, rekan Anda akan lebih menghargai Anda.

10. Hindari “menelanjangi” rekan di depan umum

Jika kita mengkritik kesalahan seseorang di depan umum, besar kemungkinan kita akan dibenci dia. Hal tersebut sudah menjadi sifat manusia. Karena cara tersebut hanya membuat seseorang merasa ditelanjangi dan dilihat oleh banyak orang.

"Menelanjangi di depan umum" akan membebekas di perasaan seseorang, bahkan bagi sebagian orang bisa menjadi dendam.

mungkin saat itu bagi pengkritik merasa menang, karena merasa benar dan mempermalukan seseorang yang berbuat salah. Namun sesunggguhnya dengan cara ini hanya akan membuat buih-buih konflik.

Jika Anda ingin meluruskan kesalahan rekan Anda, lebih baik ajak bicara berdua lebih dahulu. Anda akan lebih memahami permasalahan yang dihadapinya, dan siapa tau juga sekalian membantunya. Dan yang pasti Anda telah menyelamatkan harga dirinya.

11. Batasi masalah pribadi dengan masalah di sekolah

Pernah mengalami kejadian rekan yang marah-marah tidak jelas? Anda yang tidak tahu pangkal masalahnya juga kena semprot.

Setelah Anda selidiki ternyata rekan Anda baru bertengkar dengan istrinya di rumah. Kalau saja Anda tidak terima, bisa jadi Anda juga akan ikut marah-marah bukan? Kalau sudah seperti itu Akhirnya masalah jadi bertambah, masalah di rumah plus masalah di sekolah.

Inilah maksudnya batasi masalah pribadi dengan masalah di sekolah.

Ada prinsip bekerja yang bagus yang bisa Anda gunakan. "Masalah di rumah cukup sampai pagar rumah, dan masalah di sekolah cukup sampai pagar sekolah.

Prinsip tersebut, bisa membantu mengingatkan dan membedakan permasalahan di rumah dan permasalahan di sekolah.

Penutup

Demikianlah 11 tips yang dapat Anda lakukan untuk menghindari konflik dengan rekan mengajar. Menghindari konflik bukanlah orang yang pengecut, namun orang yang lebih bijak dalam menyikapi hidup dan hubungan pertemanan. Karena yang pasti konflik selalu akan ada, yang bisa kita lakukan adalah meminimalisirnya. (Gambar oleh Pinterest)
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar