Skip to main content

Analisis Catatan Harian #3: Pengaruh Kalimat Terhadap Perilaku Membuang Sampah Sembarangan


Saya yakin siapapun menyukai lingkungan yang bersih dan nyaman. Lingkungan seperti itu rasanya bikin hati adem dan tentram bukan?

Sayangnya, keinginan lingkungan yang bersih dan nyaman tidak berbanding lurus dengan perilakunya untuk menjaga kebersihan. Karena membuang sampah pada tempatnya sampai saat ini hanya sebatas slogan.

Buktinya, masih ada saja orang membuang sampah ke laut dan sungai bahkan ke sembarang tempat tanpa merasa bersalah sedikit pun. Hebatnya lagi membuang sampah di sembarang tempat bisa dilakukan secara massal.

Padahal masyarakat sudah diedukasi agar tidak membuang sampah sembarangan. Mulai dari diajarkan kepada anak-anak di sekolah, sampai dengan tulisan-tulisan yang dipajang di pinggir jalan.

Apa yang menjadi penyebabnya? Apakah ada hubungannya pengaruh kalimat dengan perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya? Sebelum penjelasan lebih lanjut, mari kita simak dulu latar belakang dari tulisan ini.

1. Latar belakang

Latar belakang berikut mengambil sampel sekitar tempat tinggal sendiri untuk kajian penyebab seseorang yang masih saja membuang sampah ke laut, sungai dan sembarang tempat.

Latar belakang berikut, bukan bermaksud untuk menyinggung beberapa kalangan. Namun untuk menyadarkan ternyata selama ini sebenarnya kita  sudah melaksanakan “membuang sampah pada tempatnya”.

Bingung ya, kenapa justru saya katakan ternyata selama ini kita sudah melaksanakan “membuang sampah pada tempatnya”? Padahal kenyataannya masih banyak orang membuang sampah ke laut, sungai dan sembarang tempat.

Jangan bingung, Anda akan mengerti maksud saya apabila sudah membaca tulisan ini sampai akhir. Pelan-pelan saja.

Kampung Laut

Pernahkah Anda mendengar Kampung Laut? Kampung laut adalah nama istilah di daerah tempat tinggal saya, Kab. Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan.

Kondisi alam di tepi lautnya banyak pohon bakau, hanya sedikit pantai berpasir dan banyak rawa. Walau begitu, pulau ini juga terdapat banyak sungai-sungai yang besar yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Jika Anda perhatikan, banyak rumah masyarakat yang berdiri di sepanjang tepi laut dan menjorok ke tengah laut. Sehingga menjadi nuansa tersendiri bagi Anda apabila melihatnya.

Banyak sampah di tepi laut dan sungai

Jika Anda ingin melihat keindahan Kotabaru, jangan melihat ke bawah rumah-rumah masyarakat. Karena Anda akan menemui sampah-sampah yang mengapung, bertumpuk di tiang-tiang pondasi rumah. Terlebih air laut surut, begitu banyak sampah plastik yang mengendap di lumpur.

Entah sudah berapa juta ton sampah yang ada di dasar laut yang tersebar di sepanjang tepian dan dasar laut. Yang kita khawatirkan adalah sampah berbentuk plastik itu tidak akan hancur 50 - 100 tahun.

Begitu juga dengan sungai, Anda akan mudah melihat sampah-sampah yang nyangkut di tepi sungai. Terlebih saat bajir, jalanan akan ditinggali oleh sampah-sampah yang naik dibawa banjir.

Menjadikan laut dan sungai sebagai bak sampah

Masyarakat yang tinggal laut dan sungai lebih memilih membuang sampah rumah tangga mereka ke laut dan sungai. Karena bagi mereka cara ini paling mudah. Tinggal buka jendela, lempar ke samping rumah, masalah beres.

Bayangkan saja kalau di hitung-hitung apabila satu RT anggap saja ada 100 KK. Kalau saja 1 KK menghasilkan 1 kg sampah per hari, berarti dalam 1 RT sudah menghasilkan sampah 100 kg per hari. Bayangkan sampah yang dihasilkan selama bertahun-tahun.

Namun masyarakat yang tinggal tinggal di tepi sungai menganggap sampah yang mereka buang akhirnya ke laut juga. Dan masayarakat yang tinggal di tepi laut, menganggap laut begitu luas, tidak akan penuh dengan sampah. Akhirnya muncul ungkapan bahwa “laut adalah bak sampah terbesar di dunia”.

Acara buang sampah massal

Perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya ini tidak hanya ke laut dan ke sungai. Percaya tidak percaya, kebiasaan tersebut juga ada perilaku berjamaahnya juga.

Kalau Anda perhatikan setiap selesai acara-acara besar, selalu meninggalkan sampah-sampah yang bertebaran di pinggir jalan. Akibatnya jalan raya pun juga mendapat predikat “tempat sampah terbesar”.

Bahkan tempat wisata pun tidak luput menjadi korbannya saat hari-hari libur besar. Wajah rekreasi yang semula indah, ketika sore berubah menjadi hamparan sampah sejauh mata memandang.

Di mana pun membuang sampah tidak pada tempatnya

Suka atau tidak kebiasaan membuang sampah pada tempatnya ini terbawa kemana saja. Faktor kebiasaan yang menjadi penggerak alam bawah sadar seseorang.

Contohnya saat di luar kota ketika di dalam mobil atau bus, membuang sampah makanannya dilempar begitu saja keluar mobil. Kalau sudah seperti itu, bukankah juga akan membuat image yang kurang baik bagi pengendara mobil dan bus tersebut.

Kebiasaan tersebut menjadi momok bagi daerah lain bukan?

2. Kalimat himbauan, perintah, peringatan yang sering diucapkan

Berangkat dari latar belakang di atas terbersit di pikiran, apakah ada kalimat yang salah selama ini tentang himbauan dan larangan tentang membuang sampah?

Kalau saya pribadi di sekolah apabila memberikan arahan kepada siswa lebih nyaman menggunakan kalimat “buanglah sampah pada tempatnya”. Karena memang kalimat itu lah yang paling terngiang-ngiang di kepala. Lalu bagaimana dengan Anda?

Survey iseng yang saya lakukan melalui sosial media Facebook. Dengan memberikan 1 pertanyaan dan hanya 2 pilihan. Dari 11 orang yang berkomentar, 9 orang di antaranya mejawab "membuang sampah pada tempatnya".


Berdasarkan pengalaman sendiri memberikan himbuan kepada peserta didik, pengalaman diri sendiri semenjak masih sekolah, dan survey di facebook, kesimpulannya kalimat yang paling sering kita ingat adalah “Buanglah sampah pada tempatnya”.

3. Hipotesa

Seperti hasil survey, bahwa selama ini kita lebih terngiang-ngiang kalimat “buanglah sampah pada tempatnya”. Kalimat tersebut mungkin bisa menjadi benang merah, penyebab selama ini perilaku masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan, ke laut dan sungai.

Berdasarkan permasalahan di atas, hipotesa perilaku membuang sampah sembarang tempat, ke laut dan ke sungai adalah karena pemilihan kata yang kurang tepat.

Apa yang membuat saya berfikir demikian?

Kalimat yang sudah diajarkan sejak SD, SMP, SMA, perguruan tinggi bahkan sering lihat di pinggir jalan, sebenarnya selama ini sangat berefek dan dilaksanakan oleh kita semua. Buktinya masih saja ada yang membuang sampah ke sungai, ke laut, pinggir jalan dan sebagainya.

Actionnya benar namun berbanding terbalik dari esensi kalimat “buanglah sampah pada tempatnya”.

Mindset

Awalnya mungkin Anda bingung dengan hipotesa di atas, namun cobalah Anda perhatikan dua buah kalimat perintah berikut:

“Buanglah sampah pada tempatnya”

“Buanglah sampah ke bak sampah”.

Kalimat mana yang lebih jelas tergambar jelas di otak Anda? tentu kalimat yang di bawah bukan? Karena tujuan tempat membuang sampahnya jelas, yaitu di bak sampah.

Namun sayangnya selama ini, baik saya sendiri, guru-guru di sekolah, tulisan himbauan di pinggir jalan, di pinggir sungai, dan lain sebagainya, justru lebih sering menggunakan kalimat yang pertama.

Permasalahannya adalah di beberapa daerah seperti di Kampung Laut, mindsetnya masyarakat selama ini menganggap laut adalah “tempatnya sampah”. Karena hal ini merupakan sudah kebiasaan dari nenek moyang mereka dan dilakukan turun menurun.

Jadi kalau slogannya “buanglah sampah pada tempatnya”, tentu mereka akan membuang sampah ke laut. Karena alam bawah sadar mereka sudah terbentuk berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Ditambah lagi himbauan, ajaran, didikan sejak sekolah, yang lebih menegaskan untuk membuang sampah “pada tempatnya”. Jadi sampai kapanpun mereka tetap akan membuang sampah ke laut.

Kalimat yang juga menyesatkan

Percaya atau tidak selama ini kita juga sering disuguhi kalimat yang menyesatkan. Saya yakin pasti Anda sering mendengar dan membaca tulisan peringatan seperti berikut :

“Janganlah buang sampah sembarangan”

“Jangan buang sampah ke sungai”

Nah kalimat ini juga sebenarnya berefek malah menyuruh masyarakat membuang sampah sembarangan atau membuang sampah ke sungai.

Karena permasalahannya adalah ujung kalimat tersebut. Berdasarkan penelitian, otak ternyata lebih memproses awal dan akhir kalimat. Bahkan bagi anak, ternyata otak tidak memproses kata “jangan”.

Jadi kesimpulannya, mindset masyarakat selama ini justru “buang sembarangan” dan “buang ke sungai”. Jadi apa pun itu, baik sampah dan segala macam “buangnya sembarangan dan ke sungai”.

Jadi tidak heran selama ini, masyarakat masih saja sering membuang sampah ke sungai maupun membuang sampah ke sembarang tempat.

4. Kesimpulan dan solusi

Anda mungkin saja tidak menyadari bukan? Ya itu bukan salah kita semua, kenapa selama ini sering membuang sampah sembarangan. Karena di alam sadar kita sudah tertanam kalimat yang kurang tepat.

Oleh karena itu dalam memberi himbauan, larangan, baik berupa tulisan maupun arahan, lebih baik menggunakan kalimat yang jelas dan di arahkan tujuan tempat sampahnya. Misalnya:

“Buanglah sampah ke bak sampah”.

“Hindari sungai, buanglah sampah ke bak sampah”.

Selain permasalahan kalimat, ketersediaan tempat sampah mesti menjadi perhatian oleh pemerintah. Karena ada beberapa tempat tepi laut, yang justru hampir sulit menemukan bak sampah.

Kalaupun tidak ada bak sampah, bisa menggunakan system pegawai sampah untuk menjemput sampah-sampah di depan rumah, pada jam-jam tertentu. Sistem ini sudah ada berlaku di daerah kota-kota besar.

Penutup

Demikian paparan analaisis catatan harian, semoga bisa menjadi solusi serta perhatian kita semua. Penting untuk pembentukan ulang mindset yang benar untuk menciptakan perilaku yang menjaga kebersihan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar