Skip to main content

Cara Sederhana Memperingati Hardiknas dengan Mengingat kembali Kalimat-Kalimat Ki Hajar Dewantara


Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei melalui upacara setiap tahunnya. Namun Sebagaimana kita ketahui, yang menghadiri sebagian besar adalah guru, siswa serta pegawai pemerintah.

Hal tersebut bisa dimaklumi, karena yang mengadakan adalah pemerintah maupun sekolah saja.

Mari sejenak kita renungi, bukankah pendidikan itu milik semua kalangan? Bukankah sudah semestinya diperingati oleh semua orang?

Namun untuk memperingati Hardiknas tidak mesti ikut upacara bukan? Salah satunya bisa mengenang dan mengingat kembali kalimat-kalimat Ki Hajar Dewantara.

Lalu kalimat apa saja yang perlu kita kenang darinya? Mari kita simak ulasannya sebagai berikut.

1. Slogan pendidikan Indonesia

Mengawali Kalimat-Kalimat Ki Hajar Dewantara yang perlu kita ingat kembali adalah Slogan Pendidikan Indonesia. Kita langsung saja mulai dari kalimat yang pertama sebagai berikut.

"Ing Ngarso Sung Tuludo"

Artinya adalah "di depan menjadi tauladan".

Sejatinya, baik guru, orang tua, pemerintah, dan siapa pun, adalah seorang pemimpin. Sudah semestinya sebagai pemimpin menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Kalimat sederhana ini seolah mengetuk hati, bahwa pendidikan di Indonesia ini perlu sosok pemimpin-pemimpin yang memberi tauladan. Sehingga di Hardiknas ini dapat menjadi bahan introspeksi diri, apakah Anda sebagai guru, orang tua, pemerintah sudah memberi tauladan yang baik bagi anak-anak penerus bangsa kita?

Contoh sederhana saja, sadarkah Anda saat ini masih sering dijumpai film yang semestinya tidak menjadi tontonan bagi anak-anak kita? Bahkan sebagai orang tua membiarkan dan tidak mengawasi anak-anaknya.

Lalu mau dibawa ke mana bangsa ini apabila kita-kita tidak memberi contoh yang baik?

"Ing madyo mangun karso"

Kalimat yang kedua ini artinya "di tengah membangkitkan semangat".

Saya yakin Ki Hajar Dewantara sudah berpikir jauh ke depan. Pendidikan di Indonesia ini harus maju. Bangsa Indonesia ini harus pintar agar tidak terus menerus dibodohi.

Sedangkan saat itu, mendapatkan pendidikan adalah sesuatu yang sulit. Namun beliau ingin membuka mata hati bangsa kita agar sadar pentingnya pendidikan.

Bangsa Indonesia perlu usaha dan semangat untuk memperolehnya. Walaupun mencapai pendidikan yang baik bagai berjalan naik mendaki puncak yang tinggi.

Namun sebagai bangsa yang ingin maju, mesti tetap berusaha memperolehnya.

"Tut wuri handayani"

Kalimat ini adalah kalimat yang menjadi slogan dan logo pendidikan bangsa kita, yang berarti "di belakang memberikan dorongan."

Melalui hari pendidikan nasional ini semoga menjadi momentum dengan mengingat slogan ini. Karena pendidikan ini perlu dorongan moral, semangat kerja dari belakang.

Seperti kita tahu kenyataan tingkat nilai kelulusan di Indonesia masih tergolong rendah di Asia Tenggara.

Sudah saatnya kita perlu berbenah, dan memberi dorongan agar bangsa kita lebih maju dan lebih baik dari negara lain, khususnya di Asia Tenggara.

Negara kita memiliki kualitas sumber daya manusia yang tidak kalah. Namun perlu kita dorong lagi untuk perbaikan sistem pendidikan agar lebih baik lagi.

2. Kritikan Ki Hajar Dewantara terhadap keadaan pendidikan Bangsa Indonesia

Kalimat selanjutnya yang perlu kita kenang adalah saat Ki Hajar Dewantara mengkritik keadaan pendidikan bangsa Indonesia. Kalimatnya seperti berikut.

“Saya mempunyai keyakinan, Saudara Ketua, bahwa seandainya bangsa kita tidak keputusan naluri atau tradisi, tidak kehilangan “garis kontinu” dengan zaman yang lampau, maka sistem pendidikan dan pengajaran di negeri kita… pasti akan mempunyai bentuk serta isi dan irama, yang lain daripada yang kita lihat sekarang… “

Ki Hadjar Dewantara melihat bahwa pendidikan ala Belanda yang muncul sebagai Ethische Politiek pada permulaan abad ke-20 tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia karena hanya mementingkan aspek intelektual, individual, material, dan kepentingan kolonial serta tidak mengandung cita-cita kebudayaan nasional.

Sistem pendidikan yang berkembang sesudah era itu masih memperlihatkan pengaruh yang kuat sistem pendidikan ala Belanda.

Padahal dalam tradisi bangsa Indonesia, menurut Ki Hadjar, kita mengenal istilah pendidik seperti pujangga, dalang, dwidjawara, hadjar, pendita, wiku, begawan, wali, kyai, dan juga istilah anak didik seperti mentrik, sontrang, dahyang, cantrik, dan santri.

Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah memiliki sejarah pendidikan yang panjang, yang berakar dari budaya bangsa sendiri, namun terputus karena penjajahan Belanda yang berlangsung selama 350 tahun.

Jadi kita mesti berterimakasih akan pendapat beliau, yang mungkin sejak saat itu menjadi titik perubahan gaya pendidikan di Indonesia. Dari sistem pendidikan ala Belanda menjadi pendidikan mandiri sesuai budaya asli kita, bangsa Indonesia.

Buktinya kita saat ini sudah mudah mempelajari budaya sendiri, tradisi, muatan lokal, pesantren dan lain-lain. Hal tersebut menunjukkan pendidikan di Indonesia yang berdasarkan budaya sendiri.

3. Kritikan Ki Hajar Dewantara ketika Bangsa Belanda berpesta di atas penderitaan Bangsa Indonesia

Terakhir, kalimat berikut sebenarnya tidak berkaitan dengan pendidikan. Namun ini adalah bukti dari kepedulian Ki Hajar Dewantara akan keadaan bangsa kita saat itu.

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Tulisan tersebut sebagai kritikan terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Tulisan tersebut berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker.

Jauh sebelumnya Ki Hajar Dewantara sudah memikirkan nasib bangsa ini. Mari kita lanjutkan perjuangan beliau, dengan meneruskan cita-cita beliau.

Negara yang merdeka pendidikannya. Bukan negara yang masih hidup dalam jajahan negara asing, bukan negara yang dikelola sumber dayanya oleh negara asing, bukan negara yang selalu berkaca dengan cara pendidikan asing. Tetapi negara yang menjadi kiblat pendidikan dunia.

Penutup

Di Hari pendidikan nasional ini, semoga bisa menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan pendidikan bangsa kita. Dan dapat meneruskan perjuangan beliau untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju pendidikannya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar