Skip to main content

7 Keteladanan Raden Ajeng Kartini Bagi Guru


Membentuk kepribadian yang baik bagi diri sendiri salah satu caranya dengan meneladani sifat-sifat orang lain. Misalnya meneladani dari tokoh maupun pejuang nasional yang sudah diakui sepak terjang serta jasa-jasanya.

Kebetulan sekali 21 April ini adalah Hari Pahlawan Nasional Raden Ajeng Kartini. Seorang pahlawan wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita.

Kesempatan ini bisa dijadikan momentum untuk mengambil teladan dari beliau.

Sebagai guru yang digugu dan ditiru, mesti memiliki sifat-sifat yang mulia. Mari kita simak apa saja sifat-sifat keteladanan Raden Ajeng Kartini yang bisa kit teladani yang saya kutip dari beberapa sumber.

1. Merakyat

Walaupun Raden Ajeng Kartini berasal dari kaum bangsawan namun dia tak malu berbaur dengan kaum dari golongan manapun, tanpa membedakan status sosial atau kasta. Hatinya lekat kepada rakyat walaupun dia adalah seorang bangsawan tetapi ia tidak gila akan derajat.

Bahkan RA Kartini akan merasa amat sedih jika ada seorang bangsawan yang menggunakan tingkat kebangsawanannya untuk kepentingan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Keteladanan seperti ini bisa diteladani oleh guru. Dengan peserta didik juga perlu "merakyat". Artinya, walaupun seorang guru juga perlu membaur dengan para peserta didiknya untuk membangun kedekatan.

Jangan sampai hubungan guru dengan peserta didik bagai majikan dengan anak buah.

Kita perlu membangun hubungan yang hangat dan menyenangkan dengan peserta didik.

Kita perlu mengajak mereka berdialog, sesekali bercengkerama, menanyakan kesulitan dan permasalahan mereka, bermain bersama merka, dan lain sebagainya. Sehingga mereka merasa diperhatikan.

2. Pengasih

Pengasih adalah sikap yang senantiasa diterapkan Kartini dalam kehidupan sehari-hari. Kartini sangat penyayang terutama kepada anak-anak perempuan didikannya.

Ia bahkan pernah mengatakan kepada Nyonya Abendanon kalau ia akan selalu mengasihi anak-anak didiknya itu. Seperti yang pernah diungkapkan beliau, “Moga-moga saya diperbolehkan memangku anak-anak itu dan saya akan mengasihi anak-anak itu”.

Hikmahnya, dengan peserta didik jangan pilih kasih. Sebagai guru berkewajiban mengasihi mereka.

Karena seperti kita tahu semua, peserta didik datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada dari keluarga kaya, ada keluarga miskin.

Sebagai guru, perlu lebih peka dan mengasihi mereka, terutama mereka yang kurang mampu. Ada baiknya jangan sampai mereka bersekolah menjadi beban bagi mereka.

3. Rajin

Walau tidak sekolah, Kartini tetap berusaha agar ia bisa menjadi pintar dan berwawasan luas. Ia belajar lewat buku-buku dan surat kabar yang ia baca.

Sifat rajin juga harus melekat pada setiap guru Indonesia. Tidak bakal rugi mempelajari dan mengetahui hal-hal baru yang bisa menambah wawasan kita.

Jadilah senantiasa mengupgrade diri menjadi lebih baik. Caranya bisa dengan banyak membaca, rajin mencari tahu informasi dan pengetahuan mengenai guru, senantiasa memperbaiki cara mengajar yang terbaik, dan lain sebagainya.

4. Sederhana

Sosok Kartini dikenal sebagai wanita yang penuh dengan kesederhanaan. Terbukti, ia tetap menjalani hidup yang jauh dari kemewahan meski ia berada dalam lingkungan keluarga bangsawan.

Hal ini tercermin saat Kartini menikah dengan pria bangsawan, ia memilih tidak mengadakan pesta dan tidak memakai pakaian pengantin.

Keteladanan ini perlu dimiliki setiap guru. Guru yang sederhana akan menjadi inspirasi bagi muridnya agar masa depan bangsa ini dimiliki oleh generasi yang sederhana pula.

Generasi yang sederhana diharapkan berdampak pada mengurangnya tindakan korupsi, hidup boros, melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuatu.

Kok bisa? ya bisa, karena semua hal tersebut berawal dari gaya hidup yang berlebihan bukan? Oleh karena itu, gaya hidup sederhana ini penting.

5. Tidak sombong

Walau Raden Ajeng Kartini orang terpandang, Kartini tidak mau diperlakukan berbeda dengan rakyat biasa. Ia tetap rendah hati dan tidak sombong dalam kehidupan sosialnya.

Begitu juga dengan guru. Meskipun guru sebagai orang yang lebih tua dari peserta didiknya, mesti tetap sopan, santun dan menghargai muridnya.

Bukan menjadi guru yang hanya ingin dihormati oleh muridnya. Namun juga mesti menghormati dan menghargai peserta didik nya juga.

6. Optimis

Bukti beliau optmis adalah, sekarang perjuangan beliau sudah bisa dinikmati para perempuan di Indonesia. Para wanita sudah memiliki hak emansipasi.

Sebagai seorang guru, apa yang Anda cita-citakan untuk peserta didik dan sekolah Anda?

Cita-citakan lah dan percaya, semua akan terwujud.

Ketika orang memandang suatu cita-cita, dengan segala keadaan, dengan baik dan tidak berburuk sangka, tidak mudah lemah akan cita-citanya, maka percayalah cita-cita tersebut akan dapat tercapai.

7. Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan akhlak

Bukan hanya ilmu pengetahuan yang penting bagi Raden Ajeng Kartini, namun kecerdasan berfikir dan kecerdasan budi harus sama-sama dimajukan.

Hal ini sejalan dengan visi pendidikan di Indonesia. Guru ujung tombak pendidikan di Indonesia untuk membentuk karakter akhlak.

Jadi bukan hanya memberi ilmu pengetahuan sebanyak-banyak nya. Namun menanamkan karakter yang berakhlak mulia.

Penutup

Menutup postingan ini, mari kita simak kalimat ungkapan berikut.

"Mengembangkan pribadi yang baik seperti berdiri di depan cermin. Jika ingin terlihat baik tentu harus merubah sikap Anda agar terlihat baik pula di depan cermin. Anda juga tidak bisa menilai diri Anda apabila bercermin di cermin yang kabur."

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar